expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Postingan Populer

Tuesday, March 7, 2023

SAVE THE CHILDREN

 

KEPEDULIAN, WAWASAN DAN PERHATIAN PADA ANAK

(BENTUK PERLINDUNGAN AGAR TERHINDAR DARI TINDAK ASUSILA)

 


Akhir-akhir ini semakin banyaknya kasus kejahatan pada anak-anak seperti asusila terhadap anak di bawah umur, eksploitasi waktu & tenaga anak, penganiayaan terhadap anak di bawah umur, penculikan, dll. Pada tahun 2022 hingga awal tahun 2023 ini kebanyakan berita yang sering muncul di media sosial, televisi, koran, radio tidak lain adalah kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak. Pelakunya kebanyakan adalah gurunya maupun ayahnya sendiri.

Berikut beberapa berita yang mimin baca terkait kasus pelecahan terhadap anak:

Ø  kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang guru SD terhadap siswanya di Surabaya, Jawa Timur. Kasus tersebut terjadi pada bulan Agustus 2022, di mana seorang guru SD di Surabaya ditangkap karena melakukan pelecehan seksual terhadap salah satu siswinya berusia 10 tahun. Pelaku diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap korban sebanyak empat kali, dan tindakan tersebut terungkap setelah orang tua korban mendapati adanya perubahan perilaku pada anaknya.

Ø  pada bulan September 2022, terjadi juga kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang guru SD terhadap dua siswinya di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pelaku yang merupakan seorang guru berusia 50 tahun diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap dua siswinya yang masih di bawah umur. Kasus ini terungkap setelah orang tua salah satu korban melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.

Ø  Kasus lain yang juga menimpa anak-anak terjadi di Surabaya, Jawa Timur pada Januari 2022. Seorang lelaki berusia 30 tahun ditangkap karena melakukan pelecehan seksual terhadap dua anak di bawah umur. Pelaku mengancam akan membunuh kedua korban jika mereka melaporkan tindakannya kepada orang lain. Beruntung, kedua korban akhirnya menceritakan kejadian tersebut kepada orang tua mereka dan pelaku berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian.

Selain kasus-kasus di atas ada juga kasus guru pesantren yang melakukan tindak asusila kepada santrinya, dan masih banyak lagi yang tidak bisa mimin sebutkan satu per satu.

Hal tersebut sungguh membuat mimin selalu bertanya :

“kenapa mereka bisa melakukan hal tersebut?”

“Apa mereka tidak tahu dampak ke depannya bagi tumbuh kembang anak?”

“Bagaimana pola pikir mereka bisa sampai melakukan hal sehina itu? Apa tidak takut mendapat hukuman berat?”

Dalam undang-undang perlindungan anak, UU no 35 tahun 2014 (Undang-undang (UU) tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak) dijelaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia; bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; bahwa anak sebagai tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa memiliki peran strategis, ciri, dan sifat khusus sehingga wajib dilindungi dari segala bentuk perlakuan tidak manusiawi yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia; bahwa dalam rangka meningkatkan perlindungan terhadap anak perlu dilakukan penyesuaian terhadap beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Berdasarkan undang undang di atas dijelaskan bahwa keamanan dan keselamatan anak dijamin karena mereka adalah tunas bangsa dan generasi penerus bangsa.

Masih banyak masyarakat yang tidak sadar akan pengaruh kejadian yang dialami dan lingkungan hidup terhadap tumbuh kembang anak nantinya. Tindakan pelecehan seksual ini akan berakibat pada pertumbuhan mental mereka nantinya seperti ketakutan untuk bersosialisasi dengan orang lain, rasa trauma, depresi, stress, menjadi penyendiri, dsb. Hal-hal tersebut dapat menghambat kesuksesan anak nantinya. Saat ini teknologi semakin canggih, semua informasi dapat diakses melalui berbagai media tanpa adanya pembatasan. Lalu siapa yang mempunyai peran penting terhadap tumbuh kembang anak agar tidak mengalami kasus-kasus seperti yang dialami anak-anak dalam berita tersebut?

1.  Orang tua dan keluarga

Peran orang tua sangatlah penting sebab anak menghabiskan waktu yang paling lama adalah bersama orang tua. Sebagai orang tua sangat perlu membiasakan anaknya untuk bersikap terbuka dan memberikan wawasan untuk perlindungan diri mereka. Orang tua perlu mengajarkan kewaspadaan dan kehati-hatian kepada anak, hal-hal yang perlu dilakukan bila dirasa menemui hal aneh yang membuat mereka tidak nyaman. Dukungan orang tua dan keluarga baik dari pendidikan, akhlak, agama, sikap, dll. Jadikanlah anak sebagai sesuatu yang sangat berharga seperti nyawa kalian sendiri. Yang terpenting adalah kesadaran orang tua akan dampak terhadap anak jika mendapatkan perlakuan yang tidak seharusnya dari orang tua mereka sendiri.

2.  Guru

Ada istilah guru = digugu lan ditiru dalam bahasa Indonesia artinya didengarkan/diperhatikan dan diikuti. Tapi kebanyakan guru menyalahgunakan makna itu sebagai senjata mereka untuk melakukan tindakan yang tidak sepantasnya kepada siswanya.  Sebagai siswa pasti akan menuruti apa yang dikatakan guru, karena mereka takut akan dimarahi atau mendapat nilai buruk jika tidak melakukannya. Pendidikan moral dan akhlak untuk guru sangatlah diperlukan dalam hal ini. Sekolah juga bisa melakukan pembatasan komunikasi antara guru dan siswa. Sering diadakan pengawasan dan evaluasi kepada para guru serta adanya bimbingan konseling untuk menampung cerita-cerita siswa yang tidak berani mereka ceritakan di rumah.

3.  Teman

Peran teman juga sangat dibutuhkan dalam hal ini. Terkadang anak lebih bersikap terbuka pada temannya. Dia akan menceritakan berbagai hal pada temannya dan meminta solusi. Namun bila di sekolah ada perselisihan dengan temannya akan membuat anak tidak nyaman dan tidak betah di sekolah. Hal tersebut juga dapat membuat anak lebih suka menyendiri, tidak mau bermain/bergaul dengan temannya. Jadi jika hal yang aneh pada anaknya, orang tua juga bisa bertanya pada teman dekat anaknya di sekolah.

Berikut adalah beberapa cara yang dapat membantu memberikan pemahaman kepada anak tentang pelecehan seksual:

1.     Ajarkan anak tentang batasan privasi: Ajarkan anak tentang batasan privasi mereka, termasuk tentang apa yang dapat dan tidak dapat dilihat atau disentuh oleh orang lain. Beritahu anak bahwa bagian tubuh mereka adalah hak privasi mereka dan tidak boleh diakses atau disentuh oleh orang lain tanpa izin mereka.

2.    Gunakan kata-kata yang mudah dimengerti: Gunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh anak ketika membahas topik pelecehan seksual. Berbicara dengan anak menggunakan bahasa yang sederhana dan tidak membingungkan akan membantu mereka memahami bahaya yang harus diwaspadai.

3.    Berbicara dengan jujur dan terbuka: Berbicaralah dengan anak dengan jujur dan terbuka tentang pelecehan seksual, namun disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman mereka. Anak harus tahu bahwa tidak semua orang baik-baik saja dan bahwa mereka harus waspada.

4.    Ajarkan tentang perasaan: Ajarkan anak tentang perasaan mereka dan cara untuk mengenali ketidaknyamanan dan situasi yang tidak aman. Anak harus tahu bahwa mereka berhak untuk merasa nyaman dan aman dalam segala situasi.

5.    Ajarkan tentang percaya diri: Ajarkan anak tentang pentingnya percaya diri dan bahwa mereka berhak untuk berkata "tidak" ketika ada orang yang mencoba untuk melakukan hal yang tidak mereka inginkan. Anak harus tahu bahwa orang dewasa yang bertanggung jawab tidak akan marah atau memaksa mereka untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan.

6.    Jangan mengajarkan rahasia: Ajarkan anak untuk tidak menjaga rahasia yang meminta mereka untuk melakukan sesuatu yang merugikan atau berbahaya. Anak harus tahu bahwa mereka dapat berbicara kepada orang yang mereka percayai tentang segala sesuatu dan bahwa mereka tidak akan dimarahi atau dicap sebagai pengadu.

7.    Pantau aktivitas online: Pantau aktivitas online anak Anda dan berbicara dengan mereka tentang cara aman menggunakan internet dan media sosial. Beritahu mereka tentang bahaya yang mungkin terjadi dan cara untuk melindungi diri mereka sendiri.

8.    Jangan biarkan anak menjadi korban: Jika anak mengalami pelecehan seksual, segera cari bantuan profesional dan laporkan kepada pihak berwenang. Berikan dukungan dan perlindungan yang mereka butuhkan dan jangan biarkan mereka menjadi korban.


Dengan memberikan pemahaman yang tepat kepada anak tentang pelecehan seksual, Anda dapat membantu melindungi mereka dari bahaya yang mengancam dan mengajarkan keterampilan yang diperlukan untuk tetap aman dan terlindungi.

Meskipun pemerintah Indonesia telah menetapkan berbagai undang-undang dan kebijakan untuk melindungi anak dari kekerasan dan pelecehan seksual, kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa tindakan kekerasan masih terjadi di sekitar kita. Oleh karena itu, kita semua harus meningkatkan kesadaran tentang hak-hak anak dan menjadi pelopor dalam melindungi anak-anak dari berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi.

Dalam hal ini, pihak keluarga dan sekolah juga memainkan peran penting dalam memberikan pendidikan tentang perilaku yang tidak pantas dan cara melindungi diri dari bahaya pelecehan seksual. Selain itu, peran masyarakat dan media dalam mengawasi dan melaporkan kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual juga sangat penting dalam memberikan dukungan bagi para korban dan menegakkan hukum.

No comments:

Post a Comment

Pesan Kesan Selama Mengikuti Challenge Blogspedia

USAHA KERAS DALAM MEMUNCULKAN ISPIRASI SECARA KILAT   Awal adanya #15daysblogspediachallenge dikasih tahu sahabat saya yang sebelumnya j...