KEPEDULIAN,
WAWASAN DAN PERHATIAN PADA ANAK
(BENTUK
PERLINDUNGAN AGAR TERHINDAR DARI TINDAK ASUSILA)
Akhir-akhir
ini semakin banyaknya kasus kejahatan pada anak-anak seperti asusila terhadap
anak di bawah umur, eksploitasi waktu & tenaga anak, penganiayaan terhadap
anak di bawah umur, penculikan, dll. Pada tahun 2022 hingga awal tahun 2023 ini
kebanyakan berita yang sering muncul di media sosial, televisi, koran, radio
tidak lain adalah kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak. Pelakunya
kebanyakan adalah gurunya maupun ayahnya sendiri.
Berikut beberapa berita yang mimin
baca terkait kasus pelecahan terhadap anak:
Ø kasus
pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang guru SD terhadap siswanya di Surabaya,
Jawa Timur. Kasus tersebut terjadi pada bulan Agustus 2022, di mana seorang
guru SD di Surabaya ditangkap karena melakukan pelecehan seksual terhadap salah
satu siswinya berusia 10 tahun. Pelaku diduga telah melakukan pelecehan seksual
terhadap korban sebanyak empat kali, dan tindakan tersebut terungkap setelah
orang tua korban mendapati adanya perubahan perilaku pada anaknya.
Ø pada
bulan September 2022, terjadi juga kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh
seorang guru SD terhadap dua siswinya di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pelaku
yang merupakan seorang guru berusia 50 tahun diduga telah melakukan pelecehan
seksual terhadap dua siswinya yang masih di bawah umur. Kasus ini terungkap
setelah orang tua salah satu korban melaporkan kejadian tersebut ke pihak
kepolisian.
Ø Kasus
lain yang juga menimpa anak-anak terjadi di Surabaya, Jawa Timur pada Januari
2022. Seorang lelaki berusia 30 tahun ditangkap karena melakukan pelecehan
seksual terhadap dua anak di bawah umur. Pelaku mengancam akan membunuh kedua
korban jika mereka melaporkan tindakannya kepada orang lain. Beruntung, kedua
korban akhirnya menceritakan kejadian tersebut kepada orang tua mereka dan
pelaku berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian.
Selain kasus-kasus
di atas ada juga kasus guru pesantren yang melakukan tindak asusila kepada
santrinya, dan masih banyak lagi yang tidak bisa mimin sebutkan satu per satu.
Hal tersebut sungguh membuat
mimin selalu bertanya :
“kenapa mereka bisa melakukan hal
tersebut?”
“Apa mereka tidak tahu dampak ke
depannya bagi tumbuh kembang anak?”
“Bagaimana pola pikir mereka bisa
sampai melakukan hal sehina itu? Apa tidak takut mendapat hukuman berat?”
Dalam
undang-undang perlindungan anak, UU no 35 tahun 2014 (Undang-undang (UU)
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan
Anak) dijelaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin
kesejahteraan tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak
yang merupakan hak asasi manusia; bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan
hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945; bahwa anak sebagai tunas, potensi, dan generasi muda
penerus cita-cita perjuangan bangsa memiliki peran strategis, ciri, dan sifat
khusus sehingga wajib dilindungi dari segala bentuk perlakuan tidak manusiawi
yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia; bahwa dalam rangka
meningkatkan perlindungan terhadap anak perlu dilakukan penyesuaian terhadap
beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak.
Berdasarkan undang undang di atas
dijelaskan bahwa keamanan dan keselamatan anak dijamin karena mereka adalah tunas
bangsa dan generasi penerus bangsa.
Masih
banyak masyarakat yang tidak sadar akan pengaruh kejadian yang dialami dan
lingkungan hidup terhadap tumbuh kembang anak nantinya. Tindakan pelecehan
seksual ini akan berakibat pada pertumbuhan mental mereka nantinya seperti
ketakutan untuk bersosialisasi dengan orang lain, rasa trauma, depresi, stress,
menjadi penyendiri, dsb. Hal-hal tersebut dapat menghambat kesuksesan anak nantinya.
Saat ini teknologi semakin canggih, semua informasi dapat diakses melalui
berbagai media tanpa adanya pembatasan. Lalu siapa yang mempunyai peran penting
terhadap tumbuh kembang anak agar tidak mengalami kasus-kasus seperti yang
dialami anak-anak dalam berita tersebut?
1. Orang tua
dan keluarga
Peran orang
tua sangatlah penting sebab anak menghabiskan waktu yang paling lama adalah bersama
orang tua. Sebagai orang tua sangat perlu membiasakan anaknya untuk bersikap
terbuka dan memberikan wawasan untuk perlindungan diri mereka. Orang tua perlu
mengajarkan kewaspadaan dan kehati-hatian kepada anak, hal-hal yang perlu
dilakukan bila dirasa menemui hal aneh yang membuat mereka tidak nyaman.
Dukungan orang tua dan keluarga baik dari pendidikan, akhlak, agama, sikap,
dll. Jadikanlah anak sebagai sesuatu yang sangat berharga seperti nyawa kalian
sendiri. Yang terpenting adalah kesadaran orang tua akan dampak terhadap anak
jika mendapatkan perlakuan yang tidak seharusnya dari orang tua mereka sendiri.
2. Guru
Ada
istilah guru = digugu lan ditiru dalam bahasa Indonesia artinya
didengarkan/diperhatikan dan diikuti. Tapi kebanyakan guru menyalahgunakan
makna itu sebagai senjata mereka untuk melakukan tindakan yang tidak sepantasnya
kepada siswanya. Sebagai siswa pasti
akan menuruti apa yang dikatakan guru, karena mereka takut akan dimarahi atau
mendapat nilai buruk jika tidak melakukannya. Pendidikan moral dan akhlak untuk
guru sangatlah diperlukan dalam hal ini. Sekolah juga bisa melakukan pembatasan
komunikasi antara guru dan siswa. Sering diadakan pengawasan dan evaluasi
kepada para guru serta adanya bimbingan konseling untuk menampung cerita-cerita
siswa yang tidak berani mereka ceritakan di rumah.
3. Teman
Peran
teman juga sangat dibutuhkan dalam hal ini. Terkadang anak lebih bersikap
terbuka pada temannya. Dia akan menceritakan berbagai hal pada temannya dan
meminta solusi. Namun bila di sekolah ada perselisihan dengan temannya akan
membuat anak tidak nyaman dan tidak betah di sekolah. Hal tersebut juga dapat
membuat anak lebih suka menyendiri, tidak mau bermain/bergaul dengan temannya.
Jadi jika hal yang aneh pada anaknya, orang tua juga bisa bertanya pada teman
dekat anaknya di sekolah.
Berikut
adalah beberapa cara yang dapat membantu memberikan pemahaman kepada anak
tentang pelecehan seksual:
1. Ajarkan
anak tentang batasan privasi: Ajarkan anak tentang batasan
privasi mereka, termasuk tentang apa yang dapat dan tidak dapat dilihat atau
disentuh oleh orang lain. Beritahu anak bahwa bagian tubuh mereka adalah hak
privasi mereka dan tidak boleh diakses atau disentuh oleh orang lain tanpa izin
mereka.
2. Gunakan
kata-kata yang mudah dimengerti: Gunakan kata-kata yang mudah
dimengerti oleh anak ketika membahas topik pelecehan seksual. Berbicara dengan
anak menggunakan bahasa yang sederhana dan tidak membingungkan akan membantu
mereka memahami bahaya yang harus diwaspadai.
3. Berbicara
dengan jujur dan terbuka: Berbicaralah dengan anak dengan jujur dan
terbuka tentang pelecehan seksual, namun disesuaikan dengan usia dan tingkat
pemahaman mereka. Anak harus tahu bahwa tidak semua orang baik-baik saja dan
bahwa mereka harus waspada.
4. Ajarkan
tentang perasaan: Ajarkan anak tentang perasaan mereka dan cara
untuk mengenali ketidaknyamanan dan situasi yang tidak aman. Anak harus tahu
bahwa mereka berhak untuk merasa nyaman dan aman dalam segala situasi.
5. Ajarkan
tentang percaya diri: Ajarkan anak tentang pentingnya percaya diri dan
bahwa mereka berhak untuk berkata "tidak" ketika ada orang yang
mencoba untuk melakukan hal yang tidak mereka inginkan. Anak harus tahu bahwa
orang dewasa yang bertanggung jawab tidak akan marah atau memaksa mereka untuk
melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan.
6. Jangan
mengajarkan rahasia: Ajarkan anak untuk tidak menjaga rahasia yang
meminta mereka untuk melakukan sesuatu yang merugikan atau berbahaya. Anak
harus tahu bahwa mereka dapat berbicara kepada orang yang mereka percayai
tentang segala sesuatu dan bahwa mereka tidak akan dimarahi atau dicap sebagai
pengadu.
7. Pantau
aktivitas online: Pantau aktivitas online anak Anda dan berbicara
dengan mereka tentang cara aman menggunakan internet dan media sosial. Beritahu
mereka tentang bahaya yang mungkin terjadi dan cara untuk melindungi diri
mereka sendiri.
8. Jangan
biarkan anak menjadi korban: Jika anak mengalami pelecehan seksual,
segera cari bantuan profesional dan laporkan kepada pihak berwenang. Berikan
dukungan dan perlindungan yang mereka butuhkan dan jangan biarkan mereka
menjadi korban.
Dengan
memberikan pemahaman yang tepat kepada anak tentang pelecehan seksual, Anda
dapat membantu melindungi mereka dari bahaya yang mengancam dan mengajarkan
keterampilan yang diperlukan untuk tetap aman dan terlindungi.
Meskipun
pemerintah Indonesia telah menetapkan berbagai undang-undang dan kebijakan
untuk melindungi anak dari kekerasan dan pelecehan seksual, kasus-kasus
tersebut menunjukkan bahwa tindakan kekerasan masih terjadi di sekitar kita. Oleh
karena itu, kita semua harus meningkatkan kesadaran tentang hak-hak anak dan
menjadi pelopor dalam melindungi anak-anak dari berbagai bentuk kekerasan dan
eksploitasi.
Dalam hal
ini, pihak keluarga dan sekolah juga memainkan peran penting dalam memberikan
pendidikan tentang perilaku yang tidak pantas dan cara melindungi diri dari
bahaya pelecehan seksual. Selain itu, peran masyarakat dan media dalam
mengawasi dan melaporkan kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual juga
sangat penting dalam memberikan dukungan bagi para korban dan menegakkan hukum.
No comments:
Post a Comment