expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Postingan Populer

Saturday, March 4, 2023

KASUS BULLYING YANG SERING DILAKUKAN PARA REMAJA

  

SMARTPHONE DAN KENAKALAN REMAJA: APAKAH SALING BERKAITAN??

KASUS BULLYING YANG SERING DILAKUKAN PARA REMAJA

 

Smartphone telah menjadi bagian penting dari kehidupan modern kita, terutama di kalangan remaja. Dalam satu sisi, teknologi ini memudahkan komunikasi, mendapatkan banyak informasi, dan membuka berbagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Namun di sisi lain, penggunaan smartphone yang tidak terkontrol juga bisa berdampak buruk pada perilaku dan kesehatan mental remaja, dan bahkan memicu kenakalan remaja. Seperti apa kenakalan remaja yang dimaksud?

Sebelumnya, kita pahami dahulu maknanya. Kenakalan remaja merupakan tindakan atau perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja dan melanggar norma atau aturan yang berlaku di

masyarakat. Tindakan menyimpang tersebut misalnya merokok, minuman keras, narkoba, tawuran, mencuri, penganiayaan, bullying, dll. Remaja yang dimaksud disini adalah anak-anak yang masih sekolah dan belum memasuki usia dewasa.

Lalu apa hubungan kenakalan remaja dengan penggunaan smartphone?

Seperti yang kita ketahui, di era sekarang ini smartphone semakin canggih. Dahulu hanya bisa untuk BBM atau Whatsapp saja, saat ini sudah banyak aplikasi seperti youtube, Instagram, facebook, LINE, dll sehingga semakin mudah bagi penggunanya mengakses bermacam-macam informasi tanpa adanya filter/Batasan tertentu. Hal tersebut membuat para remaja menjadi kecanduan dan mencari berbagai informasi selain tentang pelajaran. Sebelum adanya smartphone memang sudah sering terjadi kasus bullying di sekolah. Perundungan ini biasanya dilakukan oleh sekelompok siswa terhadap salah satu siswa yang mereka rasa aneh/pendiam/tidak mereka sukai. Awalnya hanya merundung melalui ucapan atau sedikit keisengan seperti coret-coret meja korban, menyembunyikan barang-barangnya. Namun sejak para siswa bisa mengakses segala hal dari smartphone, mereka akan mencari berbagai tindakan bullying yang menurut mereka menyenangkan. Hanya dengan melihat konten-konten video di smartphone, mereka akan menemukan berbagai tindakan merundung si korban bahkan bisa membahayakan nyawa si korban.

Kita pasti sering mendengar ataupun membaca berita tentang siswa yang takut masuk sekolah bahkan hingga bunuh diri karena dirundung/dibully temannya di sekolah, salah satu penyebabnya karena pengaruh smartphone. Ada yg tahu istilah cyberbullying? Mari simak penjelasannya.

Cyberbullying adalah tindakan bullying yang dilakukan melalui media sosial atau platform online lainnya. Bentuk-bentuk cyberbullying antara lain seperti mengirim pesan atau email yang menghina, membuat komentar yang tidak pantas di akun media sosial orang lain, menyebar foto atau video yang mempermalukan, atau bahkan menciptakan akun palsu dengan tujuan memfitnah atau menyebarkan rumor yang merugikan.

Mengapa mereka melakukan hal itu??

Banyak faktor yang menyebabkan remaja melakukan hal tersebut, diantaranya:

1.  Lingkungan sekolah yang tidak aman: Beberapa lingkungan sekolah mungkin tidak aman dan terbuka terhadap perilaku bullying. Ini dapat menciptakan lingkungan yang merugikan dan membuat siswa lebih rentan terhadap perilaku cyberbullying.

2.  Lingkungan sosial yang terfragmentasi: Lingkungan sekolah dapat menjadi tempat di mana kelompok sosial dan hirarki diperkuat. Hal ini dapat menciptakan lingkungan yang terfragmentasi, di mana beberapa siswa merasa tidak dihargai atau diabaikan. Hal ini dapat memicu perilaku cyberbullying yang ditujukan pada siswa yang dianggap lemah atau terisolasi.

3.  Pengaruh media sosial: Siswa sering menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dan membangun hubungan sosial. Namun, media sosial juga dapat menciptakan lingkungan yang dapat memicu cyberbullying. Siswa dapat merasa bebas untuk melakukan tindakan yang tidak pantas atau merugikan orang lain tanpa harus menghadapi konsekuensi langsung.

4.  Tekanan akademik: Tekanan akademik dan persaingan di lingkungan sekolah dapat menciptakan lingkungan yang menekan dan berpotensi menciptakan konflik antara siswa. Hal ini dapat memicu perilaku cyberbullying yang ditujukan pada siswa yang dianggap mengancam atau bersaing dengan pelaku.

5.  Kesenjangan sosial: Kesenjangan sosial dapat terjadi di lingkungan sekolah, di mana siswa dari latar belakang ekonomi yang lebih rendah atau minoritas mungkin merasa diabaikan atau tidak dihargai. Hal ini dapat memicu perilaku cyberbullying yang bertujuan untuk mempermalukan atau merendahkan siswa yang dianggap "berbeda".

6.  Kurangnya pengawasan orang dewasa: Cyberbullying di lingkungan sekolah dapat menjadi lebih sulit untuk dideteksi dan dikelola jika tidak ada pengawasan dari orang dewasa seperti guru atau orang tua. Kurangnya pengawasan dapat menciptakan kesempatan bagi siswa untuk melakukan cyberbullying tanpa harus menghadapi konsekuensi.

Penggunaan smartphone dan teknologi lainnya seperti laptop atau tablet, telah memudahkan aksi cyberbullying terjadi. Remaja yang memiliki akses ke smartphone dapat dengan mudah mengakses media sosial dan berinteraksi dengan teman-temannya di sana. Namun, penggunaan smartphone juga dapat memfasilitasi adanya tindakan cyberbullying yang merugikan dan melukai orang lain.

Dampak dari aksi cyberbullying juga dapat sangat merugikan korban. Korban cyberbullying dapat mengalami stres, depresi, dan bahkan memiliki pikiran untuk bunuh diri. Selain itu, aksi cyberbullying juga dapat mengurangi harga diri dan kepercayaan diri korban, serta mengganggu hubungan sosial dan aktivitas sehari-hari.

Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat membantu mengatasi cyberbullying di sekolah:

1.  Meningkatkan kesadaran dan pendidikan: Guru dan staf sekolah dapat memperkuat kesadaran tentang bahaya dan dampak dari cyberbullying melalui program pendidikan yang efektif. Program-program ini dapat membantu siswa memahami efek negatif dari tindakan mereka dan meningkatkan kesadaran tentang cara menghindari perilaku cyberbullying.

2.  Mempromosikan etika dan nilai: Sekolah dapat mempromosikan etika dan nilai yang positif dan membantu siswa memahami pentingnya keterbukaan, toleransi, dan penghormatan terhadap orang lain. Nilai-nilai ini dapat membantu mengurangi kemungkinan perilaku bullying.

3.  Meningkatkan pengawasan: Guru dan staf sekolah harus aktif mengawasi perilaku siswa di lingkungan sekolah dan media sosial. Ini termasuk mengawasi kegiatan siswa di kelas dan di luar kelas, serta memonitor aktivitas online mereka untuk mengetahui kemungkinan tindakan cyberbullying.

4.  Melibatkan orang tua: Orang tua juga dapat berperan penting dalam mengatasi cyberbullying di sekolah. Sekolah dapat berkomunikasi secara teratur dengan orang tua dan memberikan informasi tentang tindakan cyberbullying yang mungkin terjadi di sekolah. Orang tua juga dapat membantu mendidik anak mereka tentang cara menggunakan teknologi dengan bertanggung jawab dan positif.

5.  Mengembangkan kebijakan sekolah yang jelas: Sekolah dapat mengembangkan kebijakan yang jelas dan tegas tentang tindakan cyberbullying. Kebijakan ini dapat mencakup tindakan disiplin dan konsekuensi yang jelas bagi siswa yang terlibat dalam perilaku tersebut.

6.  Memberikan dukungan kepada siswa korban: Sekolah harus memberikan dukungan kepada siswa yang menjadi korban cyberbullying. Ini dapat mencakup dukungan emosional, layanan konseling, atau bahkan bantuan hukum jika diperlukan.

7.  Menindak tegas pelaku: Sekolah harus menindak tegas pelaku cyberbullying dengan tindakan disiplin yang sesuai. Tindakan ini harus jelas, adil, dan konsisten untuk mencegah tindakan serupa terjadi di masa depan.

Secara singkat untuk mengatasi aksi cyberbullying, perlu dilakukan berbagai tindakan preventif dan penanganan. Orang tua dan guru dapat memberikan edukasi tentang penggunaan teknologi secara bertanggung jawab dan memperkenalkan anak-anak pada nilai-nilai sosial dan etika yang baik. Selain itu, platform media sosial juga harus memberikan perhatian lebih pada tindakan cyberbullying dan memberikan tindakan tegas terhadap pelaku.

Bagaimana Mengontrol Penggunaan Smartphone?

Mengontrol penggunaan smartphone pada remaja penting untuk memastikan mereka tetap aman, sehat dan berkembang dengan baik. Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orang tua dan wali adalah sebagai berikut:

Ø  Membatasi waktu penggunaan smartphone pada remaja.

Ø  Mengawasi konten yang diakses dan waktu penggunaan smartphone.

Ø  Mengajak remaja untuk terlibat dalam kegiatan fisik, seperti olahraga dan kegiatan sosial.

Ø  Mendorong remaja untuk membangun hubungan sosial di lingkungan nyata dan mengurangi ketergantungan pada media sosial dan interaksi virtual.

Ø  Meningkatkan kesadaran tentang risiko penggunaan smartphone yang berlebihan.

 

Dari penjabaran di atas dapat kita ketahui betapa pentingnya peran orang tua dan guru dalam mendidik anak remajanya agar tidak menyimpang dari norma sosial dan akan berdampak buruk pada masa depan mereka nantinya. Jadi sebagai orang tua perlu memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan anaknya sedari dini dan amat sangat penting melakukan pendekatan terhadap anak agar mereka dapat bersikap terbuka terhadap orang tua.

No comments:

Post a Comment

Pesan Kesan Selama Mengikuti Challenge Blogspedia

USAHA KERAS DALAM MEMUNCULKAN ISPIRASI SECARA KILAT   Awal adanya #15daysblogspediachallenge dikasih tahu sahabat saya yang sebelumnya j...